Portal beritanya warga Nusa Tenggara Timur

Beranda Opini

Diskusi Soal Pengkoperasian BUMN Tak Peduli Substansi

Oleh : Suroto*

Setelah ide pengkoperasian BUMN saya lontarkan dan menjadi kontroversi di media, ternyata perdebatan yang terjadi hanya didominasi oleh isu elektoral, bukan dijadikan perdebatan substantif dari masing masing pihak tim pemenangan Calon Presiden dan Wakil Presiden yang sedang berkontestasi. Ternyata perdebatannya hanya mengarah ke dalam isu untuk mengejar kepentingan elektoral dan menjadi bantah-berbantah miskin substansi.

Tadinya saya berharap muncul menjadi perdebatan di level ideologi, level kebangsaan dan kenegaraan yang berujung jadi komitmen para calon presiden dan wakil presiden nanti ketika menjabat. Bagaimana agar model perusahaan yang dikuasai secara otoritatif oleh Presiden dan Menteri ke arah yang demokratis dimiliki oleh seluruh masyarakat secara langsung melalui model koperasi.

Sangat disayangkan karena komentar yang muncul di media juga dari tokoh, ekonom dan politisi hanya langsung menghujat dengan nada yang emosional seperti menyebut sebagai fitnah, absurd, ngawur, tidak realistis dan lain sebagainya. Padahal sengaja saya lontarkan karena bisnis yang dikembangkan oleh BUMN kita itu sebetulnya secara keseluruhan juga sudah menjadi praktik pelayanan koperasi di seluruh dunia.

Sebut misalnya di sektor keuangan, dua koperasi keuangan Desjardins Group di Canada dan Koperasi Bank Populaeir di Perancis yang dimiliki jutaan anggotanya itu bisa dijalankan secara demokratis dengan sistem koperasi dan jadi Bank of The Year di dua negara ini. Di sektor kehutanan misalnya, koperasi kehutanan Metsa di Finlandia bisa menjadi pengelola manajemen hutan terbaik di dunia. Lalu untuk sektor industri, model koperasi Mondragon yang utamanya bergerak di bidang industri baja bisa juga gunakan sistem koperasi.

Koperasi banyak juga yang berkembang di sektor layanan publik yang dikembangkan BUMN kita. Sebut saja misalnya koperasi listrik National Rural Elextricity Cooperative Association (NRECA) yang berkembang dan dimiliki oleh konsumennya dihampir seluruh desa di negara Amerika Serikat dan atau koperasi Rumah Sakit Group Health Cooperative (GHC) yang jadi rumah sakit dan jaringan layanan kesehatan terbesar di Washington Amerika Serikat.

Ide pengkoperasian BUMN itu adalah ide yang realistis. Bahkan seorang Lee ketika dia diangkat pertama kali jadi Perdana Menteri seluruh meritokratnya diminta untuk mempelajari koperasi sebagai kekuatan pembangunan ekonomi domestik negaranya dan dia lalu bangun dua koperasi penting seperti koperasi NTUC Fair Price yang kuasai pangsa pasar ritel lebih dari 50 persen di Singapura dan mampu jaga stabilitas harga pangan dan juga koperasi NTUC Income yang jadi perusahaan asuransi terbesar.

Sangat disayangkan, calon calon pemimpin kita sepertinya juga kurang artikulatif dalam memahami pasal 33 UUD 1945 yang jelas menyebut secara gamblang bahwa bumi dan air dan kekayaan alam serta hal yang menguasai hidup orang banyak itu dikuasai negara dan digunakan untuk sebesar-besar bagi kemakmuran rakyat. Kemudian disebut bahwa bangun perusahaan yang sesuai dengan demokrasi ekonomi itu ialah koperasi.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *