Portal beritanya warga Nusa Tenggara Timur

Beranda Humaniora

Ignas Kleden, Cendikiawan Asal NTT Berpulang

Kupang | FlobamoraNewsIgnas Kleden, tokoh cendikiawan nasional asal Nusa Tenggara Timur telah tiada. Berpulangnya Ignas Kleden, diinformasikan oleh aktifis sosial I. Sandyawan Sumardi dalam akun media sosialnya. “Telah berpulang dalam damai, Bapak Ignas Kleden, pada Senin 22 Januari 2024 pukul 03.46 WIB, di Rumah Sakit Suyoto, Jakarta Selatan.”

“Dukacita mendalam dan doa kami. Semoga Almarhum mendapatkan kedamaian sejati di haribaan Allah Maha Kasih. Dan semoga keluarga tercinta yang ditinggalkan, dan mbak Hermien Y. Kleden, mendapatkan penghiburan dari Allah sendiri,” tulis Sandyawan Sumardi.

Dalam kacamata Sandyawan Sumardi, Ignas Kleden adalah seorang sosiolog, cendekiawan dan sastrawan nasional yang mumpuni. “Bapak Ignas Kleden adalah anggota Akademi Jakarta 2002-2020, Mohon doa bagi perjalanan akhir beliau,” ungkap Sandyawan Sumardi.

Menurut rencana, almarhum akan disemayamkan di Rumah Duka St. Carolus, Jl. Salemba Raya, Jakarta Pusat.

Almarhum Ignas Kleden, lahir dan dibesarkan di Waibalun, Larantuka, Flores Timur, pada tanggal 19 Mei 1948. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Ledalero, Maumere, Flores (1972) ini, meraih gelar Master of Art bidang filsafat dari Hochschule fuer Philosophie, Muenchen, Jerman pada tahun 1982. Kemudian pada tahun 1995 Ignas Kleden menyandang gelar Doktor bidang Sosiologi dari Universitas Bielefeld, Jerman.

Dalam catatan laman Wikipedia, buku Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan, terpilih sebagai Cerpen Pilihan Kompas 1997, juga memuat esainya, “Simbolis Cerita Pendek”Kumpulan esai tentang perbukuan, Buku dalam Indonesia Baru (1999), memuat salah satu tulisannya, “Buku di Indonesia: Perspektif Ekonomi Politik tentang Kebudayaan”. Buku kumpulan esainya adalah Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan (1988) dan Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan (2004).

Ignas Kleden juga menulis kata pengantar untuk Mempertimbangkan Tradisi karya Rendra (1993), Catatan Pinggir 2 karya Goenawan Mohamad (1989), dan Yel karya Putu Wijaya (1995).

Pada tahun 2003, bersama sastrawan Sapardi Djoko Damono, Ignas Kleden menerima Penghargaan Achmad Bakrie. Ia dinilai telah mendorong dunia ilmu pengetahuan dan pemikiran sosial di Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih tajam lewat essai dan kritik kebudayaannya.(Gen). 

 

6 COMMENTS

  1. Turut berdukacita sedalam-dalamnya atas berpulangnya Bapak Ignas Kleden.
    Semoga almarhum diterima di sisi kanan Bapak di Sorga dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.
    Jasa Almarhum untuk Bangsa ini kan terus dikenang.

  2. Turut berdukacita sedalam-dalamnya atas berpulangnya Bapak Ignas Kleden.
    Semoga almarhum diterima di sisi kanan Bapak yang maha kuasa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan🙏

  3. Turut berduka atas berpulangnya Bapak Ignas Kleden ke rumah Bapa di surga. Kita telah kehilangan sosok yang sangat humanis, yang memahami persoalan bangsa ini.

  4. Turut berduka atas berpulangnya Bapak Ignas Kleden ke rumah Bapa di surga. Kita telah kehilangan sosok yang sangat humanis, yang memahami persoalan bangsa ini.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *